Showing posts with label Indonesian Tale. Show all posts
Showing posts with label Indonesian Tale. Show all posts

03 October 2011

Joko Tarup and Seven Angels (Joko Tarup dan Tujuh Bidadari)

Joko Tarup and Seven Angels

Once upon a time there was a widow who lived in the village of Dadapan.  She had a son whose name was Joko Tarup.  Dadapan village was close to a wood so Joko Tarup liked to go to the wood.  He liked hunting for animals with his blowpipe.

One day when he was in the wood he saw a beautiful rainbow and he saw seven angels went down through it.  He came closer and searched for them.  The seven angels were swimming and taking a bath in a lake.  Joko Tarup looked at them while hiding behind trees.  When they had finished taking a bath, they flew through the rainbow to heaven.  

The next day he saw the same thing again.  This time Joko Tarup had an idea.  He searched for their dress and when he found them he took one of them.  As they had finished swimming and taking a bath, they looked for their dress.  One of them could not find her dress.  Her friends had to come back to heaven so they left her.  She was crying while staying in the water.  Joko Tarup approached her.

“Why are you crying lady?”

“I lose my dress so I cannot go home”

“Where is your home?”

“I live in heaven.  I’m an angel.  My name is Nawang Wulan.  But I lose my dress so I cannot fly anymore”

“If you don’t mind I will take my mother’s dress for you”

“OK, please do”

“Wait for me here, I’ll be back”

Then Joko Tarup went home to take his mother’s dress and gave it to Nawang Wulan.  He asked her to stay at his house with his mother.  Not long after that Joko Tarup married Nawang Wulan.  

As an angel Nawang Wulan had spiritual power.  She had ability which far above human being.  She could cook rice with just a bar of rice and when it had done the bowl will be full of rice.  But there was one condition.  The bowl must not be opened before it has done.  Joko Tarup was very surprised with her wife’s ability. He was very curious about it.  So when Nawang Wulan was away he opened the bowl.  Consequently Nawang’s spiritual power disappeared.  She had to cook as ordinary human being.

Several months later Nawang Wulan gave birth to a beautiful baby girl.  Her name was Nawang Asih.  The birth of Nawang Asih added happiness to Joko Tarup and Nawang Wulan.
Since Nawang Wulan could not cook efficiently anymore, she needed more rice than usual.  The stock of rice in their store room diminished rapidly.  Then one day when she took rice there she was very surprised.  Nawang Wulan found her angel dress.  It was hidden there under piles of rice.  She immediately wore it and talked to Joko Tarup.  

“My dear husband, now I know what you did to me”

“Forgive me, my dear.  I admit that I did this because I love you”

“I love you too.  But now I find my dress.  I must come back to heaven.  I am an angel.  My place is not here.  I have to go now.”

“How about Nawang Asih?  She needs you”

“I will leave her but don’t worry.  I will take care of her.  Anytime she needs me I will be here.  For that purpose please build a tower. When Nawang Asih cries put her there then calls my name. I will come immediately.  But I will be invisible to you.  Good bye dear”

Then Joko Tarup built a tower behind his house.  Every time Nawang Asih cried he would put her there.  Nawang Wulan would come and take care of Nawang Asih.



Joko Tarup dan Tujuh Bidadari
 
Pada suatu waktu ada seorang janda yang tinggal di desa Dadapan.
Dia memiliki seorang putra bernama Joko Tarup. Desa Dadapan dekat dengan hutan sehingga Joko Tarup suka pergi ke hutan. Dia suka berburu hewan dengan sumpitnya.

Suatu hari ketika ia di hutan dia melihat pelangi yang indah dan ia melihat tujuh bidadari turun melalui pelangi tersebut. Dia datang mendekat dan mencari mereka.
Tujuh bidadari tersebut berenang dan mandi di sebuah danau. Joko Tarup menatap mereka sambil bersembunyi di balik pohon. Ketika mereka selesai mandi, mereka terbang melalui pelangi ke surga.

Hari berikutnya ia melihat hal yang sama lagi.
Kali ini Joko Tarup punya ide. Ia mencari pakaian mereka dan ketika ia menemukannya ia mengambil salah satu dari pakaian tersebut. Saat mereka selesai berenang dan mandi, mereka mencari pakaian mereka. Salah satu dari bidadari itu tidak bisa menemukan pakaiannya. Teman-temannya harud kembali ke surga sehingga mereka meninggalkannya. Dia menangis sambil berendam di air. Joko Tarup mendekatinya.

“Mengapa kamu menangis?”

“Saya kehilangan baju saya jadi saya tidak bisa pulang”

“Di mana rumahmu?”

“Aku tinggal di surga. Aku seorang bidadari. Nama saya Nawang Wulan. Tapi saya kehilangan baju saya jadi saya tidak bisa terbang lagi”

“Jika kamu tidak keberatan saya akan mengambil baju ibuku untuk mu”

“Ya udah boleh”

“Tunggu aku di sini, aku akan kembali”

Lalu Joko Tarup pulang untuk mengambil baju ibunya dan memberikannya kepada Nawang Wulan. Dia memintanya untuk tinggal di rumahnya bersama ibunya. Tidak lama setelah itu Joko Tarup dan Nawang Wulan menikah.

Sebagai seorang bidadari Nawang Wulan memiliki kekuatan spiritual.
Dia memiliki kemampuan yang jauh di atas manusia. Dia bisa memasak nasi hanya dengan sebatang padi dan ketika itu dilakukan mangkuk akan penuh dengan nasi. Tapi ada satu syarat. Mangkuk tidak boleh dibuka sebelum selesai. Joko Tarup sangat terkejut dengan kemampuan istri nya. Dia sangat penasaran tentang hal itu. Jadi, ketika Nawang Wulan sedang pergi ia membuka mangkuk. Akibatnya kekuatan spiritual Nawang menghilang. Dia harus memasak seperti manusia biasa.

Beberapa bulan kemudian Nawang Wulan melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik.
Namanya Nawang Asih. Kelahiran Nawang Asih menambah kebahagiaan pada Joko Tarup dan Nawang Wulan.

Karena Nawang Wulan tidak bisa memasak efisien lagi, ia membutuhkan beras lebih dari biasanya. Stok beras di gudang mereka berkurang dengan cepat. Lalu suatu hari ketika ia mengambil beras dia sangat terkejut.
Nawang Wulan menemukan baju bidadarinya. Baju itu tersembunyi di bawah tumpukan beras. Dia segera mengenakan baju itu dan berbicara pada Joko Tarup.

“Suami tercintaku, sekarang aku tahu apa yang kamu lakukan pada ku”

“Maafkan aku, Sayang. Saya mengakui bahwa saya melakukan ini karena aku mencintaimu”

“Aku juga mencintaimu. Tapi sekarang aku menemukan gaunku. Aku harus kembali ke surga. Aku seorang bidadari. Tempat saya tidak di sini. Aku harus pergi sekarang.”

“Bagaimana dengan Nawang Asih? Dia membutuhkan mu”

“Aku akan meninggalkan dia tapi jangan khawatir.
Aku akan merawatnya. Setiap kali dia membutuhkan saya, saya akan berada di sini. Untuk itu membangunlah menara. Ketika Nawang Asih menangis tempatkan dia di sana kemudian panggil nama saya. Aku akan datang segera. Tapi saya tidak akan terlihat buat mu. Selamat tinggal saying”

Lalu Joko Tarup membangun sebuah menara di belakang rumahnya. Setiap kali Nawang Asih menangis dia akan meletakkannya di sana. Nawang Wulan akan datang dan mengurus Nawang Asih.
[ Read More - Baca Selengkapnya ]

16 September 2011

Danau Toba

Danau Toba

Once upon a time, there was a fisherman lived in North Sumatra. When he was fishing in a river, a big fish was nailed. This fish had gold color all over its body. It was beautiful. The fisherman was very excited. He imagined a delicious dinner in his head. He put the fish in his basket and went home happily.

When he got home, he put the fish in a sink. He grabbed a knife to kill the fish. But when he almost killed it, he saw the fish eyes and felt pity. He took the knife away and put the fish in washbasin and added water in it. "Don’t worry, I wouldn’t kill you" the fisherman said.

The fisherman went fishing again. But this time he couldn’t get any fish. He went home with nothing in his hand. His stomach started to sing. He walked home slouching. He was surprised when he saw smoke came out from his kitchen.

"Who cooked in my kitchen?" he was confused.

He took a peep and surprised when he saw a beautiful girl cooked in his house. "Why is there a girl in my kitchen?" he was confused.

The fisherman entered the room. "Who are you?" he asked the girl.

"I’m the fish" The girl said.

The fisherman looked the washbasin and saw nothing in it. "The fish?" he asked incredulously.

"Yes. You didn’t kill me and I’m very thankful. I will return your kindness" The girl said.

"That’s ok. I didn’t ask any return" the fisherman said.

"But I have to" The girl insisted.

"Well, I lived alone. I don’t have family. If you want to be my wife, I will be very happy" The fisherman asked the girl.

The girl smiled and said "I’d love to but you have to promise me that if we have kid you can’t tell him about me"

And so, the fisherman and the fish girl were married. And then they had a child called Samo. Samo was very naughty. He couldn’t be advisable. He always played and never helped his parents.

One day Samo was asked to deliver lunch to his father. On his way, he met his friends and forgot to deliver his father’s lunch. Samo played with his friends. When he was tired and hungry, he was resting under a tree and ate his father lunch. Meanwhile his father waited him in starve and tired. His father went home and saw Samo played. "Where is my lunch?" he asked.

"Mmm…mm.. I ate it" Samo said afraid.

"Why did you eat it?" his father asked.

"Mmm..mm.. I was hungry after playing with my friends" Samo said.

"You were told to deliver my lunch but you didn’t listen" his father was very furious. "I can’t handle you anymore. You are very naughty. Go away from me. Don’t come home anymore" His father yelled and evicted Samo from his house.

And this what happened if you can’t control your mouth when you are angry. His father said the words that he wouldn’t suppose to say. "You… fish’s son"

Suddenly, the sky was getting dark. The storm was breaking the ears. The rain felt from the sky like giant hose sprayed water all over the place. And then the water came out from the land and getting harder.

Sumo’s mother was very sad. "I told you don’t tell him about me" she said to her husband. "Now I’m going back to be fish again. Good bye" the mother was transformed magically to be gold fish again and disappear through the water. The water was getting higher and drown the village and formed a lake.

Meanwhile, sumo run to the hill and stayed there. The hill then was surrounded by the lake.

Now the lake was known as Toba Lake. Toba came from Tuba word means no mercy. And the hill in the middle called Samosir Island. Samosir means ‘Samo di usir’ or in English : Samo has been evicted.

This is just a legend, there were so many versions of the name’s story.






Danau Toba

Pada suatu ketika, ada seorang nelayan tinggal di Sumatera Utara. Ketika ia sedang memancing di sungai, seekor ikan besar memakan umpannya. Ikan itu memiliki warna keemasan di seluruh tubuhnya. warnanya indah. Nelayan itu sangat bersemangat. Dia membayangkan makan malam yang lezat di kepalanya. Dia menaruh ikan di keranjang dan pulang dengan gembira.

Ketika ia pulang, ia menempatkan ikan di wastafel. Ia mengambil pisau untuk menyembelih ikan tersebut. Tetapi ketika ia hampir menyembelihnya, ia melihat mata ikan tersebut dan merasa kasihan. Dia meletakkan pisau itu dan menempatkan ikan tersebut di wastafel dan menambahkan air ke dalamnya. "Jangan khawatir, aku tidak akan menyembelihmu" kata nelayan itu.

Si Nelayan pergi memancing lagi. Tapi kali ini dia tidak mendapatkan seekor ikan pun. Dia pulang dengan tangan hampa. Perutnya mulai terasa lapar. Dia berjalan pulang dengan tertunduk. Dia terkejut ketika ia melihat asap keluar dari dapur.

"Siapa yang memasak di dapur saya?" bingungnya.

Dia mengintip dan terkejut ketika ia melihat seorang gadis cantik memasak di rumahnya. "Mengapa ada seorang gadis di dapur saya?" Bingung dia.

Nelayan tersebut memasuki ruangan. "Siapa kau?" Tanyanya ke gadis itu.

"Aku ikan." Kata si gadis.

Nelayan melihat wastafel dan tidak melihat apa-apa di dalamnya. "Ikan?" Tanyanya tak percaya.

"Ya. Anda tidak membunuh saya dan saya sangat bertrimakasih. Aku akan balas kebaikan Anda" Kata gadis tersebut.

"Tidak apa-apa. Saya tidak meminta balasan apapun" kata nelayan itu.

"Tapi aku harus" Gadis itu bersikeras.

"Baiklah, saya tinggal sendirian. Saya tidak punya keluarga. Jika kamu mau menjadi istri saya, saya akan sangat senang" kata si nelayan kepada gadis itu..

Gadis itu tersenyum dan berkata "Aku mau tetapi Anda harus berjanji padaku bahwa jika kita memiliki anak Anda tidak boleh memberitahunya tentang saya."

Dan kemudian, nelayan dan gadis ikan menikah. Dan kemudian mereka memiliki anak yang diberi nama Samo. Samo sangat nakal. Dia tidak bisa dinasehati. Dia selalu bermain dan tidak pernah membantu orang tuanya.

Suatu hari Samo diminta untuk memberikan makan siang untuk ayahnya. Dalam perjalanan, ia bertemu teman-temannya dan lupa untuk memberikan makan siang ayahnya. Samo bermain dengan teman-temannya. Ketika ia lelah dan lapar, ia beristirahat di bawah pohon dan memakan makan siang ayahnya. Sementara itu ayahnya menunggu dia kelaparan dan kelelahan. Ayahnya pulang ke rumah dan melihat Samo bermain. "Di mana makan siang Ayah?" Tanyanya.

"Mmm ... mm .. Saya memakannya" kata Samo dengan takut.

"Kenapa kamu memakannya?" Tanya ayahnya.

"Mmm .. mm .. Aku lapar setelah bermain dengan teman saya" kata Samo.

"Kau disuruh untuk memberikan makan siang tapi kau tidak mendengarkannya." Ayahnya sangat marah. "Saya tidak bisa mengurus kamu lagi. Kamu sangat nakal. Pergi dari saya. Jangan pulang lagi" Teriak Ayahnya dan Samo diusir dari rumahnya.

Dan ini apa yang terjadi jika Anda tidak bisa mengontrol mulut Anda ketika Anda marah. Ayahnya mengatakan kata-kata yang seharusnya dia tidak boleh katakan. "Kau ... anak ikan."

Tiba-tiba, langit mulai gelap. Badai memecah telinga. Hujan turun dari langit seperti air disemprotkan dari selang raksasa ke seluruh tempat. Dan kemudian air keluar dari tanah dan semakin besar.

Ibu Sumo sangat sedih. "Aku bilang kau tidak boleh cerita tentang saya," katanya kepada suaminya. "Sekarang aku akan kembali menjadi ikan lagi. Selamat tinggal" Sang ibu berubah secara ajaib menjadi ikan emas lagi dan menghilang kedalam air. Air itu semakin tinggi dan menenggelamkan desa dan membentuk sebuah danau.

Sementara itu, Sumo berlari ke bukit dan tinggal di sana. Bukit tersebut kemudian dikelilingi oleh danau.

Sekarang danau itu dikenal sebagai Danau Toba. Toba berasal dari kata Tuba berarti tanpa belas kasihan. Dan bukit di tengah disebut Pulau Samosir. Samosir berarti 'Samo di usir'.

Ini hanya sebuah legenda, ada begitu banyak versi cerita dengan judul tersebut.
[ Read More - Baca Selengkapnya ]

14 September 2011

Malin Kundang

Malin Kundang

Once upon a time, on the north coast of Sumatra lived a poor woman and his son. The boy was called Malin Kundang. They didn’t earn much as fishing was their only source of income. Malin Kundang grew up as a skillful young boy. He used to help his mother to earn some money. However, as they were only fisherman’s helper, they still lived in poverty. “Mother, what if I sail overseas?” asked Malin Kundang one day to his mother. Her mother didn’t agree but Malin Kundang had made up his mind. “Mother, if I stay here, I’ll always be a poor man. I want to be a successful person,” urged Malin kundang. His mother wiped her tears, “If you really want to go, I can’t stop you. I could only pray to God for you to gain success in life,” said his mother wisely. “But, promise me, you’ll come home.”

In the next morning, Malin Kundang was ready to go. Three days ago, he met one of the successful ship’s crew. Malin was offered to join him. “Take a good care of yourself, son,” said Malin Kundang’s mother as she gave him some food supplies. “Yes, Mother,” Malin Kundang said. “You have to take a good care of yourself, too. I’ll keep in touch with you,” he continued before kissing his mother’s hand. Before Malin stepped onto the ship, Malin’s mother hugged him tight as if she didn’t want to let him go.

It had been three months since Malin Kundang left his mother. As his mother had predicted before, he hadn’t contacted her yet. Every morning, she stood on the pier. She wished to see the ship that brought Malin kundang home. Every day and night, she prayed to the God for her son’s safety. There was so much prayer that had been said due to her deep love for Malin Kundang. Even though it’s been a year she had not heard any news from Malin Kundang, she kept waiting and praying for him.

After several years waiting without any news, Malin Kundang’s mother was suddenly surprised by the arrival of a big ship in the pier where she usually stood to wait for her son. When the ship finally pulled over, Malin Kundang’s mother saw a man who looked wealthy stepping down a ladder along with a beautiful woman. She could not be wrong. Her blurry eyes still easily recognized him. The man was Malin Kundang, her son.

Malin Kundang’s mother quickly went to see her beloved son. “Malin, you’re back, son!” said Malin Kundang’s mother and without hesitation, she came running to hug Malin Kundang, “I miss you so much.” But, Malin Kundang didn’t show any response. He was ashamed to admit his own mother in front of his beautiful wife. “You’re not my Mother. I don’t know you. My mother would never wear such ragged and ugly clothes,” said Malin Kundang as he released his mother embrace.

Malin Kundang’s mother took a step back, “Malin…You don’t recognize me? I’m your mother!” she said sadly. Malin Kundang’s face was as cold as ice. “Guard, take this old woman out of here,” Malin Kundang ordered his bodyguard. “Give her some money so she won’t disturb me again!” Malin Kundang’s mother cried as she was dragged by the bodyguard, ”Malin… my son. Why do you treat your own mother like this?”

Malin Kundang ignored his mother and ordered the ship crews to set sail. Malin Kundang’s mother sat alone in the pier. Her heart was so hurt, she cried and cried. “Dear God, if he isn’t my son, please let him have a save journey. But if he is, I cursed him to become a stone,” she prayed to the God.

In the quiet sea, suddenly the wind blew so hard and a thunderstorm came. Malin Kundang’s huge ship was wrecked. He was thrown by the wave out of his ship, and fell on a small island. Suddenly, his whole body turned into stone. He was punished for not admitting his own mother.






Malin Kundang

Pada suatu waktu, di pantai utara Sumatera tinggal seorang wanita miskin dan anaknya. Anak itu bernama Malin Kundang. Mereka tidak memperoleh banyak uang dari memancing satu-satunya sumber pendapatan mereka. Malin Kundang tumbuh menjadi seorang anak muda terampil. Dia selalu membantu ibunya untuk mendapatkan uang. Namun, karena mereka hanya pembantu nelayan, mereka masih hidup dalam kemiskinan. "Ibu, bagaimana jika aku berlayar ke luar negeri?" Tanya Malin Kundang suatu hari kepada ibunya. Ibunya tidak setuju tetapi Malin Kundang telah membulatkan tekadnya. "Ibu, kalau aku tinggal di sini, aku akan selalu menjadi orang miskin. Aku ingin menjadi orang yang sukses", desak Malin Kundang. Ibunya menyeka air matanya, "Jika kamu benar-benar ingin pergi, ibu tidak bisa menahan mu. Ibu hanya bisa berdoa kepada Allah untuk mu agar mendapatkan kesuksesan dalam hidup, "kata ibunya bijak. "Tapi, berjanjilah pada ibu, kau akan pulang."

Pada pagi berikutnya, Malin Kundang sudah siap untuk pergi. Tiga hari lalu, ia bertemu salah satu dari awak kapal yang sukses. Malin ditawarkan untuk bergabung dengannya. "Jaga dirimu baik-baik, nak," kata ibu Malin Kundang sambil ia memberinya beberapa persediaan makanan. "Ya, Ibu," kata Malin Kundang. "Ibu juga harus jaga diri sendiri baik-baik. Saya akan tetap menghubungi ibu", lanjutnya sebelum mencium tangan ibunya. Sebelum Malin melangkah ke kapal, ibu Malin memeluknya erat-erat seolah-olah dia tidak ingin membiarkan dia pergi.

Sudah tiga bulan sejak Malin Kundang meninggalkan ibunya. Seperti ibunya telah prediksi sebelumnya, ia tidak menghubunginya lagi. Setiap pagi, dia berdiri di dermaga. Dia ingin melihat kapal yang membawa Malin Kundang pulang. Setiap hari dan malam, ia berdoa kepada Allah untuk keselamatan anaknya. Ada begitu banyak doa yang telah dipanjatkan karena cinta yang mendalam untuk Malin Kundang. Meskipun sudah setahun ia tidak mendengar berita dari Malin Kundang, ia terus menunggu dan berdoa untuknya.

Setelah beberapa tahun menunggu tanpa berita, ibu Malin Kundang tiba-tiba terkejut dengan kedatangan sebuah kapal besar di dermaga di mana ia biasanya berdiri menunggu anaknya. Ketika kapal itu akhirnya menepi, ibu Malin Kundang yang melihat seorang pria yang tampak kaya melangkah menuruni tangga bersama dengan seorang wanita cantik. Dia tidak mungkin salah. Mata kabur nya masih mudah mengenalinya. Pria itu Malin Kundang, anaknya.

Ibu Malin Kundang dengan cepat pergi menemui putra kesayangannya. "Malin, kau sudah kembali, nak!" Kata ibu Malin Kundang dan tanpa ragu-ragu, ia berlari untuk memeluk Malin Kundang, "Ibu sangat merindukanmu." Tapi, Malin Kundang tidak menunjukkan respon. Ia malu mengakui ibunya sendiri di depan istrinya yang cantik. "Kau bukan Ibu saya. Saya tidak kenal Anda. Ibuku tidak akan pernah mengenakan pakaian compang-camping dan jelek seperti itu, "kata Malin Kundang sambil melepaskan pelukan ibunya.

Ibu Malin Kundang melangkah mundur, "Malin ... Kau tidak mengenali ibu? Aku ibumu "katanya dengan Sedihnya. Wajah Malin Kundang sedingin es. "Pengawal, bawa wanita tua ini keluar dari sini," perintah Malin Kundang kepada pengawalnya. "Beri dia uang sehingga dia tidak akan mengganggu aku lagi!" Ibu Malin Kundang menangis seraya ia diseret oleh pengawal, "Malin ... anakku. Mengapa kamu memperlakukan ibumu sendiri seperti ini? "

Malin Kundang mengabaikan ibunya dan memerintahkan awak kapal untuk berlayar. Ibu Malin Kundang yang duduk sendirian di dermaga. Hatinya begitu terluka, ia menangis dan menangis. "Ya Tuhan, jika dia bukan anak saya, semoga perjalanannya aman. Tetapi jika ia anakku, aku mengutuknya menjadi batu", dia berdoa kepada Allah.

Di laut yang tenang, tiba-tiba angin bertiup begitu kencang dan badai datang. Kapal besar Malin Kundang itu rusak. Ia terlempar keluar dari kapalnya oleh gelombang, dan jatuh di sebuah pulau kecil. Tiba-tiba, seluruh tubuhnya berubah menjadi batu. Ia dihukum karena tidak mengakui ibunya sendiri.
[ Read More - Baca Selengkapnya ]

08 September 2011

Sangkuriang

Sangkuriang

Long time ago in West Java, lived a beautiful girl named Dayang Sumbi. She was also smart and clever. Her beauty and intelligence made a prince from the heavenly kingdom of Kahyangan desire her as his wife. The prince asked permission from his father to marry Dayang Sumbi. People from Kahyangan could never live side by side with humans, but his father approved on one condition, when they had a child, the prince would transform into a dog. The prince accepted the condition.

They get married and lived happily in the woods until Dayang Sumbi gave birth to a baby boy. The prince then changed into a dog named Tumang. Their son is named Sangkuriang. He was very smart and handsome like his father. Everyday, he hunted animals and looked for fruits to eat. One day, when he was hunting, Sangkuriang accidentally killed Tumang. His arrow missed the deer he was targeting and hit Tumang instead. He went home and tells her mother about the dog. “What?” Dayang Sumbi was appalled. Driven by sadness and anger, she grabbed a weaving tool and hit Sangkuriang’s head with it. Dayang Sumbi was so sad; she didn’t pay any attention to Sangkuriang and started to cry.

Sangkuriang feel sad and also confused. How can his mother love a dog more than him? Sangkuriang then decided to go away from their home and went on a journey. In the morning, Dayang Sumbi finally stopped crying. She started to feel better, so she went to find Sangkuriang. But her son was nowhere to be found. She looked everywhere but still couldn’t find him. Finally, she went home with nothing. She was exhausted. She fell asleep, and in her dream, she meets her husband. “Dayang Sumbi, don’t be sad. Go look for my body in the woods and get the heart. Soak it with water, and use the water to bathe, and you will look young forever,” said the prince in her dream. After bathing with the water used to soak the dog’s heart, Dayang Sumbi looked more beautiful and even younger.

And time passed by. Sangkuriang on his journey stopped at a village and met and fell in love with a beautiful girl. He didn’t realize that the village was his homeland and the beautiful girl was his own mother, Dayang Sumbi. Their love grew naturally and he asked the girl to marry him. One day, Sangkuriang was going on a hunt. He asked Dayang Sumbi to fix the turban on his head. Dayang Sumbi was startled when she saw a scar on his head at the same place where she, years ago, hit Sangkuriang on the head.

After the young man left, Dayang Sumbi prayed for guidance. After praying, she became convinced that the young man was indeed her missing son. She realized that she had to do something to prevent Sangkuriang from marrying her. But she did not wish to disappoint him by cancelling the wedding. So, although she agreed to marry Sangkuriang, she would do so only on the condition that he provides her with a lake and built a beautiful boat, all in one night.

Sangkuriang accepted this condition without a doubt. He had spent his youth studying magical arts. After the sun went down, Sangkuriang went to the hill. Then he called a group of genie to build a dam around Citarum River. Then, he commands the genies to cut down trees and build a boat. A few moments before dawn, Sangkuriang and his genie servants almost finished the boat.

Dayang Sumbi, who had been spying on him, realised that Sangkuriang would fulfill the condition she had set. Dayang Sumbi immediately woke all the women in the village and asked them to wave a long red scarf. All the women in the village were waving red scarf, making it looked as if dawn was breaking. Deceived by false dawn, the cock crowed and farmers rose for the new day.

Sangkuriang’s genie servants immediately dropped their work and ran for cover from the sun, which they feared. Sangkuriang grew furious. With all his anger, he kicked the unfinished boat. The boat flew and landed on a valley. The boat then became a mountain, called Mount Tangkuban Perahu (Tangkuban means upturned or upside down, and Perahu means boat). With his power, he destroyed the dam. The water drained from the lake becoming a wide plain and nowadays became a city called Bandung (from the word Bendung, which means Dam).




Sangkuriang


Jaman dahulu kala di Jawa Barat, hidup seorang gadis cantik bernama Dayang Sumbi. Dia juga cerdas dan pintar. Kecantikan dan kecerdasannya membuat seorang pangeran dari kerajaan surgawi Kahyangan ingin menjadikannya sebagai istrinya. Pangeran tersebut meminta izin pada ayahnya untuk menikahi Dayang Sumbi. Orang-orang dari Kahyangan tidak pernah bisa hidup berdampingan dengan manusia, tetapi ayahnya menyetujui dengan satu syarat, ketika mereka memiliki anak, sang pangeran akan berubah menjadi seekor anjing. Pangeran menerima syarat tersebut.

Mereka menikah dan hidup bahagia di hutan sampai Dayang Sumbi melahirkan seorang bayi laki-laki. Pangeran kemudian berubah menjadi seekor anjing bernama Tumang. Anak mereka bernama Sangkuriang. Dia sangat cerdas dan tampan seperti ayahnya. Setiap hari, dia berburu hewan dan mencari buah-buahan untuk makan. Suatu hari, ketika ia berburu, Sangkuriang tak sengaja membunuh Tumang. Panah yang ia arahkan ke seekor rusa meleset dan mengenai Tumang. Dia pulang ke rumah dan memberitahukan ibunya tentang Tumang. "Apa?" Dayang Sumbi terkejut. Didorong oleh kesedihan dan kemarahan, ia mengambil alat tenun dan memukul kepala Sangkuriang. Dayang Sumbi sangat sedih, dia tidak memperdulikan Sangkuriang dan mulai menangis.


Sangkuriang merasa sedih dan juga bingung. Bagaimana bisa ibunya lebih mencintai seekor anjing daripada dia? Sangkuriang kemudian memutuskan untuk pergi dari rumahnya dan melakukan perjalanan. Di pagi hari, Dayang Sumbi akhirnya berhenti menangis. Dia mulai merasa lebih baik, jadi dia pergi mencari Sangkuriang. Tapi anaknya tidak dapat ditemukan dimanapun. Dia mencarinya ke mana-mana tapi masih tidak bisa menemukannya. Akhirnya, dia pulang dengan tangan kosong. Dia kelelahan. Dia tertidur, dan dalam mimpinya, dia bertemu suaminya. "Dayang Sumbi, jangan sedih. Pergilah cari tubuh saya di hutan dan ambil jantung saya. Rendam dengan air, dan gunakan air tadi untuk mandi, dan kamu akan terlihat muda selamanya", kata sang pangeran dalam mimpinya. Setelah mandi dengan air yang digunakan untuk merendam jantung anjing tadi, Dayang Sumbi tampak lebih cantik dan lebih muda.


Dan waktu pun berlalu. Sangkuriang dalam perjalanannya berhenti di sebuah desa dan bertemu dan jatuh cinta dengan seorang gadis yang cantik. Dia tidak menyadari bahwa desa itu adalah tanah airnya dan gadis cantik itu ibunya sendiri, Dayang Sumbi. Cinta mereka tumbuh secara alami dan ia meminta gadis itu untuk menikah dengannya. Suatu hari, Sangkuriang akan berburu. Dia meminta Dayang Sumbi untuk memperbaiki sorban di kepalanya. Dayang Sumbi terkejut ketika dia melihat bekas luka di kepalanya di tempat yang sama di mana dia, tahun lalu, memukul Sangkuriang di kepala.


Setelah pemuda itu pergi, Dayang Sumbi berdoa minta bimbingan. Setelah berdoa, ia menjadi yakin bahwa pemuda itu memang anaknya yang hilang. Dia menyadari bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk mencegah Sangkuriang menikahinya. Tapi dia tidak ingin mengecewakannya dengan membatalkan pernikahan. Jadi, meskipun dia setuju untuk menikahi Sangkuriang, dia akan melakukannya dengan syarat bahwa ia membuatkan sebuah danau dan membangun sebuah perahu yang indah, semua dalam satu malam.


Sangkuriang menerima syarat ini tanpa keraguan. Dia menghabiskan masa mudanya belajar ilmu gaib. Setelah matahari terbenam, Sangkuriang pergi ke bukit. Lalu ia memanggil sekelompok jin untuk membangun bendungan di sekitar Sungai Citarum. Kemudian, ia memerintahkan para jin untuk menebang pohon dan membangun sebuah perahu. Beberapa saat sebelum fajar, Sangkuriang dan pelayan jin-nya hampir menyelesaikan membuat perahu.

Dayang Sumbi, yang telah memata-matai Sangkuriang, menyadari bahwa Sangkuriang akan memenuhi syarat yang dia tetapkan. Dayang Sumbi segera membangunkan semua wanita di desa dan meminta mereka untuk melambai-lambaikan syal merah yang panjang. Semua wanita di desa itu melambai-lambaikan syal merah, sehingga terlihat seolah-olah fajar pecah. Ditipu oleh fajar palsu, ayam berkokok dan petani bangun untuk hari yang baru.

Hamba jin Sangkuriang segera menjatuhkan pekerjaan mereka dan berlari untuk berlindung dari matahari, yang mereka takuti. Sangkuriang menjadi marah. Dengan semua kemarahannya, ia menendang perahu yang belum selesai. Perahu terbang dan mendarat di sebuah lembah. Perahu itu kemudian menjadi sebuah gunung, yang disebut Gunung Tangkuban Perahu. Dengan kekuatannya, ia menghancurkan bendungan. Air mengering dari danau menjadi dataran yang luas dan kini menjadi sebuah kota yang bernama Bandung (dari Bendung kata, yang berarti Dam).
[ Read More - Baca Selengkapnya ]

Timun Emas (Golden Cucumber)

Timun Emas (Golden Cucumber)

Long time ago, lived an old woman named Mbok Sirni. She lived by herself because her husband had long passed away and she had no children. Every day, she prayed so God would give her a child. One night, when she was praying, a giant passed her house and heard her pray. “I can give you a child on one condition,” the giant said to Mbok Sirni, “You must give the child back to me when it is six years old.” Mbok Sirni was so happy; she did not think about the risk of losing the child later and agreed to take the giant’s offer. The giant then gave her a bunch of cucumber seeds. “Plant it around your house.” The giant then left without saying anything else. In the morning, Mbok Sirni planted the seeds. The seeds grew within mere days, and blossomed plentifully. Not longer after that, a big golden cucumber grew from plants. Carefully, Mbok Sirni plucked the golden cucumber and carried it home. With caution and care, she sliced the cucumber. She was very surprised to see a beautiful baby girl inside the cucumber. She then named the baby Timun Emas (it means Golden Cucumber).

Years passed by and Timun Emas has grown to be a lovely and beautiful little girl. She was also smart and kind. Mbok Sirni loved her very much. But she kept thinking about the time the giant would take Timun Emas away from her. One night, Mbok Sirni had a dream. In order to save Timun Emas from the giant, she had to meet the holy man who lived in Mount Gundul. The next morning, Mbok Sirni took leave of Timun Emas to go to Mount Gundul. The holy man then gave her four little bags, each one containing cucumber seeds, needles, salt, and shrimp paste. “Timun Emas can use these to protect herself,” said the holy man to Mbok Sirni.

A few days later, the giant came to see Mbok Sirni about her promise. “Mbok Sirni! Where is Timun Emas?” shouted the giant. “My daughter, take these bags with you. They can save you from the giant. Now, run through the back door,” said Mbok Sirni. But the giant saw Timun Emas running to the woods. The giant was angry. Starved and enraged, he rushed toward Timun Emas. Mbok Sirni tried to stop him, but the giant was unstoppable.

The giant was getting closer and closer, so Timun Emas opened the first bag she got from Mbok Sirni. Inside the bag were cucumber seeds. She threw the seeds, and instantly they grew into large cucumber field. But the giant ate them all, giving him more strength. As the giant was getting close, Timun Emas took the second bag with needles inside and spilled the content behind her. The needles turned into bamboo trees, sharp and thorny. The giant’s body was scratched and bled. “Aaargh, I’ll get you, Timun Emas!” shouted the giant as he tried to get himself out from the bamboo field. He made it and still chasing Timun Emas.

Timun Emas then reached the third bag and spilled the salt inside. The ground which the salt touched turned into a deep sea. The giant almost drown and had to swim to cross the sea. After some time, he managed to get out from the water. Timun Emas saw the giant coming, so she reached for the last bag. She took the shrimp paste and threw it. The shrimp paste became a big swamp of boiling mud. The giant was trapped in the middle of the swamp. The mud slowly but surely drowned him. Helpless, he roared out, “Help! Heeeeelp…!” Then the giant drown and died. Timun Mas then immediately went home. Since then, Timun Emas and Mbok Sirni live happily ever after.







Timun Emas

Jaman dahulu kala, hidup seorang perempuan tua bernama Mbok Sirni. Dia tinggal sendirian karena suaminya sudah lama meninggal dan dia tidak punya anak. Setiap hari, dia berdoa agar Tuhan akan memberikan anak padanya. Suatu malam, ketika dia sedang berdoa, seorang raksasa melewati rumahnya dan mendengar doanya. "Saya bisa memberikan seorang anak dengan satu syarat," kata raksasa ke Mbok Sirni, "Anda harus memberikan anak itu kembali ke saya ketika dia berumur enam tahun." Mbok Sirni sangat senang, ia tidak berpikir tentang risiko kehilangan anak itu kemudian dan setuju untuk menerima tawaran sang raksasa. Raksasa itu kemudian memberinya setumpuk biji mentimun. "Tanaman di sekitar rumah mu." Raksasa itu kemudian pergi tanpa mengatakan apa-apa. Di pagi hari, Mbok Sirni menanam benih tersebut. Benih tumbuh dalam beberapa hari saja, dan berkembang dengan banyaknya. Tidak lama setelah itu, sebuah mentimun emas besar tumbuh dari tanaman tadi. Dengan hati-hati, Mbok Sirni memetik mentimun emas dan membawanya pulang. Dengan perhatian dan hati-hati, dia mengiris mentimun tersebut. Dia sangat terkejut melihat seorang bayi perempuan yang cantik ada didalam mentimun tadi. Dia kemudian member nama bayi tersebut Timun Emas (artinya Ketimun Emas).

Tahun demi tahun berlalu dan Timun Emas telah tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang cantik dan mempesona. Dia juga pintar dan baik. Mbok Sirni sangat mencintainya. Tapi ia terus berpikir tentang waktu raksasa itu akan mengambil Timun Emas darinya. Suatu malam, Mbok Sirni bermimpi. Untuk menyelamatkan Timun Emas dari raksasa, ia harus bertemu orang suci yang tinggal di Gunung Gundul. Keesokan paginya, Mbok Sirni meninggalkan Timun Emas untuk pergi ke Gunung Gundul. Orang suci tersebut kemudian memberikan empat tas kecil, masing-masing berisi biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. "Timun Emas dapat menggunakan itu untuk melindungi dirinya sendiri," kata pria suci ke Mbok Sirni.

Beberapa hari kemudian, raksasa datang untuk menemui Mbok Sirni tentang janjinya. "Mbok Sirni! Timun Emas mana? "Teriak raksasa itu. "Putri ku, bawa tas-tas ini. ini dapat menyelamatkan mu dari raksasa itu. Sekarang, keluar lewat pintu belakang, "kata Mbok Sirni. Tapi raksasa melihat Timun Emas berlari ke hutan. Raksasa itu marah. Kelaparan dan marah, ia bergegas mengejar Timun Emas. Mbok Sirni mencoba menghentikannya, tetapi raksasa itu tidak bias dihentikan .

Raksasa itu semakin dekat dan dekat, sehingga Timun Emas membuka tas pertama yang ia dapatkan dari Mbok Sirni. Di dalam tas itu terdapat biji mentimun. Dia melemparkan benih, dan langsung benih tersebut tumbuh menjadi ladang mentimun yang luas. Tetapi raksasa tersebut memakan semuanya, membuatnya menjadi lebih kuat. Raksasa itu semakin dekat, Timun Emas mengambil kantong kedua yang berisi jarum didalam dan menumpahkan isinya di belakangnya. Jarum-jarum itu pun berubah menjadi pohon bambu yang tajam dan berduri. Tubuh raksasa itu tergores dan berdarah. "Aaargh, saya akan menangkap mu, Timun Emas!" Teriak raksasa itu sambil ia mencoba keluar dari hutan bamboo tersebut. Dia berhasil keluar dan masih mengejar Timun Emas.

Timun Emas lalu meraih kantong ketiga dan menumpahkan garam yang ada didalamnya. Tanah yang terkena garam tersebut berubah menjadi lautan yang dalam. Raksasa tesebut hampir tenggelam dan harus berenang untuk menyeberangi lautan tadi. Setelah beberapa waktu, ia berhasil keluar dari air. Timun Emas melihat raksasa itu datang, jadi dia meraih tas terakhir. Dia mengambil terasi udang dan melemparkannya. Terasi udang itu berubah menjadi rawa lumpur mendidih yang luas. Raksasa itu terperangkap di tengah rawa. Lumpur itu perlahan tapi pasti menenggelamkannya. Takberdaya, ia meraung dengan keras, "Tolong! toooolong ... "Lalu! Raksasa itu tenggelam dan meninggal. Timun Mas kemudian segera pulang. Sejak itu, Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia selamanya.
[ Read More - Baca Selengkapnya ]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...